Pendidikan

Manusia adalah hewan yang berpikir dan senantiasa berpikir. Dengan kemampuannya itu mansia mencoba untuk memahami lingkungannya. Cara manusia memandang dunia kemudian membentuk nilai (konsep ideal yang dianut oleh individu maupun kelompok/masyarakat) yang dianutnya. Setiap individu sangat subjektif dalam memandang dunia.

Nilai adalah hal yang sangat penting bagi manusia, karena nilai adalah sesuatu hal yang memberi makna terhadap kehidupan yang dimiliki manusia, nilai adalah jiwa yang memberi perasaan kepada manusia bahwa dialah seorang manusia, nilai adalah esensi dari keberadaan manusia itu sendiri.

Individu-individu tersebut kemudian saling mengikat dirinya membentuk kelompok yang lebih besar sehingga terbentuklah masyarakat, sebagai suatu sistem. Ikatannya adalah solidaritas yang didasari atas kesadaran bersama(coomon consciousness adalah terminologi dari durkheim dalam memahami proses terbentuknya masyarakat). Ini adalah nilai yang dianut bersama.

Nilai tersebut bukanlah sesuatu yang konstan. Setiap individu dan masyarakat akan mempunyai nilai yang berbeda sesuai zamannya. Setiap sistem mengandung nilai dan kepercayaan tersendiri. Namun, terdapat tujuan utama manusia dalam sistem tersebut yang paling luhur dengan nilai yang luhur pula, sebuah nilai universal, yaitu nilai kemanusiaan, nilai yang menjadikan kita manusia.

Proses transfer nilai dari individu ke individu lain, dari satu generasi ke generasi yang lain dalam masyarakat inilah yang disebut pendidikan. Menurut Paulo Freire, pendidikan adalah proses memanusiakan manusia, sedangkan John Dewey mengatakan bahwa pendidikan adalah proses yang dilakukan agar ada perubahan dalam masyarakat. Sehingga dapat dikatakan bahwa pendidikan adalah sebuah proses transfer dan pencarian nilai yang terjadi dilevel individu maupun masyarakat yang mengarah kepada perubahan kondisi kearah yang lebih baik. Maka sejatinya pendidikan adalah juga proses pembebasan manusia, karena telah begitu banyak penindasan terjadi diantara manusia.

Menurut Giroux dan Aronowitz, terdapat tiga paradigma pendidikan. Pertama, paradigma konservatif, yang memandang ketidaksederajatan manusia merupakan suatu hukum keharusan alami, suatu hal yang mustahil untuk menghindari itu serta itu semua merupakan ketentuan sejarah atau bahkan takdir Tuhan. Sehingga perubahan sosial bukanlah sesuatu yang harus diperjuagkan. Kedua, paradigma liberal, yang memandang banwa ada masalah di masyarakat, namun tidak berhubungan dengan politik dan ekonomi masyarakat, sehingga mereka berpandangan bahwa pendidikan adalah masalah tersendiri yang tidak ada sangkut pautnya dengan masyarakat. Dan yang ketiga adalah paradigma kritis/radikal yang menghendaki perubahan struktur secara fundamental dalam politik ekonomi masyarakat dimana pendidikan berada. Paradigma ini memandang bahwa pendidikan berkaitan dengan masyarakat dan sistem sosial yang ada pada saat itu.

Paulo Freire (1970) membagi ideologi pendidikan dalam tiga kerangka yang didasarkan pada kesadaran ideologi masyarakat. Pertama, kesadaran magis (magical consciousness), yakni kesadaran masyarakat yang tidak mampu mengetahui kaitan antara satu faktor dengan faktor lainnya, dimana kesadaran magis lebih melihat faktor diluar manusia (natural maupun supranatural). Kedua, kesadaran naif (naival consciousness), yang lebih melihat aspek manusia yang menjadi akar penyebab masalah masyarakat, misalnya, dalam menganalisis mengapa masyarakat miskin, adalah karena kesalahan masyarakat itu sendiri. Dan yang ketiga adalah kesadaran kritis (critical consciousness), yang lebih melihat aspek sistem dan struktur sebagai sumber masalah, yang lebih menganalisis secara kritis struktur dan sistem sosial, politik, ekonomi, dan budaya serta akibatnya pada keadaan masyarakat.

Paradigma pendidikan berimplikasi pada pendekakatan pendidikan. Terdapat dua model pendekatan pendidikan menurut Paulo Freire, yaitu Pedagogy dan Andragogy. Pedagogy adalah metode pendekatan yang menempatkan objek pendidikannya sebagai ‘anak-anak’ meskipun usia bioogisnya sudah termasuk ‘dewasa’. Konskuensinya adalah menempatkan peserta didik sebagai ‘murid’ yang pasif, yng sepenuhnya menjadi objek suatu proses belajar, seperti ‘guru menggurui, guru mengevaluasi, murid dievaluasi. Sebaliknya Andragogy atau pendidikan ‘orang dewasa’ adalah metode pendekatan yang menempatkan peserta didik sebagai orang dewasa, murid sebagai subjek dari sistem pendidikan yang aktif. Fungsi guru adalah sebagai ‘fasilitator’ bukan menggurui, dan relasi antara guru-murid bersifat ‘multicommunication’ dan seterusnya.

Pendidikan juga seharusnya tidak berada jauh dengan realitas, yaitu pendidikan yang dekat dengan kondisi real masyarakat, karena pendidikan bertujuan untuk transformasi/perubahan dalam masyarakat ke arah kehidupan yang lebih baik. Pendidikan seharusnya membangun kesadaran kritis, dan mampu menciptakan ruang untuk tumbuhnya resistensi dan subversi terhadap sistem yang dominan. Sehingga pandangan pendidikan seperti itu akan melahirkan aliran pendidikan yang disebut pendidikan kritis.

Proses dalam pendidikan seharusnya dapat menjadi proses pembebasan manusia dari penindasan . Sejarah membuktikan telah begitu banyak proses penindasarn terjadi terhadap manusia, bahkan hingga saat ini. Karena baik si penindas, maupun yang tertindas, sama-sama mengalami proses dehumanisasi (kehilangan kemanusiannya) karena menyalahi kodrat manusia itu sendiri. Sejatinya manusia harus dipandang dan diperlakukan sebagai seorang manusia yang memiliki hak dan kewajiban serta sama harkat dan martabatnya dengan manusia lain.

Pendidikan pun seharusnya tidak menempatkan guru/pengajar sebagai subjek dan murid/peserta belajar sebagai objek, namun, menempatkan guru/pengajar sebagai subjek (dalam hal ini fasilitator) dan murid/perserta belajar sebagai subjek pula. Sehingga pendidikan kritis pun dapat terwujud dan menghasilkan manusia yang kritis dan mampu membawa perubahan dalam masyarakat ke arah yang lebih baik.

Oleh : Kif

Advertisements

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Pendidikan Indonesia, Studi Kasus: Kasus IMG ITB

Sampai saat ini, masyarakat Indonesia masih mengenal ITB sebagai lembaga pendidikan yang layak diandalkan dalam menghadirkan alumni bermutu. Dan sepertinya kita memang diminta untuk mempercayainya. ITB memang menjanjikan banyak hal sebagai lembaga pengelola pendidikan. Kemegahan dan masa lalunya yang panjang cukup membuat kita sampai saat ini menaruh harapan yang besar terhadap ITB. Pandangan masyarakat tentang pendidikan mungkin memang masih patut disyukuri. Setidaknya bangsa kita telah memiliki lagu tentang kepahlawanan guru. Dan semoga saja masih ada cukup aktivis pendidikan dalam penyelenggaraan pendidikan kita, atau setidaknya sikap bijak dalam memberikan kontrol pendidikan. Bagaimana pun pendidikan adalah suatu bentuk budaya tertinggi manusia. Terdefinisikan sebagai apapun, sikap bijak jauh lebih baik dibandingkan peng-agungan yang berlebihan.

Sebelumnya, mari kita membayangkan keidealan sebuah pendidikan tinggi. Karena cita-cita dan fungsinya sebagai tempat berkembangnya ilmu pengetahuan, sekolah seharusnya berfungsi menjadi lembaga yang memberikan rekomendasi terpercaya, independent, berkualitas terukur, dan berkelanjutan. Karena keilmiahan ini, sekolah menjalankan filosofi academic freedom dan mampu mengajukan sebuah sikap. Dan dengan berpegang pada kebebasan ilmiah, sekolah akhirnya menjadi lembaga yang berwibawa dengan pranata didalamnya yang kemudian berkontribusi. Profesor, guru besar, dosen, diharapkan aktif riset dan penelitian, menulis dan mengeluarkan paper dan kemudian akan menjadi sangat berharga. Bersamaan dengan itu mahasiswa aktif dalam kemahasiswaan sebagai pencarian lebih lanjut dari pelajaran yang didapat di kelas. Bagi Mahasiswa, diperlukan kaderisasi dan motivasi untuk dapat mewujudkan hal tersebut. Menurut hemat saya, mewujudkan hal tersebut adalah sebuah usaha memposisikan pendidikan sesuai dengan nilai yang sebenarnya. Sebagian aspek yang mendukung kemajuan sebuah masyarakat.

Merujuk pada kasus IMG ITB (Ikatan Mahasiswa Geodesi ITB), apakah sejarah masalah ospek berulang? Terdapat perspektif lain yang mungkin diajukan dalam memandang sejarah. Kita memang harus tidak terus hanyut dan tenggelam dalam amnesia sejarah. Sikap amnesia menimbulkan kondisi ketidak-tahuan: semua yang hadir hanya terasa baik-baik saja dan kita akan selalu bingung dengan masalah-masalah yang muncul kemudian. Dengannya tidak akan terjamin hadirnya sebuah kemajuan sejarah. Melihat dari posisinya selama ini, OSPEK selalu dianggap berkaitan dengan tradisi atau dogma tertentu dan memiliki konotasi negatif. Kesadaran kolektif yang menahun ini memang berlarut-larut. Melalui sejarah, budaya tidak saling apresiasi ini adalah masalah yang seharusnya dianggap penting dan perlu penyikapan yang bijak. Karena pada hakikatnya, kaderisasi kampus adalah sebuah usaha kultural yang dilakukan Mahasiswa dalam pembentukan karakter yang tak didapatkan melalui sekedar belajar di kelas. Penyelenggara pendidikan tentu menyadari ketidak cukupan pelajaran formal di kelas dalam mewujudkan ekspektasi tinggi pendidikan. Pendapat Romo Mangunwijaya (Alm.) tentang proses pendidikan bagi si terdidik layak diajukan menanggapi hal ini: “jika daya pikir dan semangat eksploratif dan kreatif berantakan dari akar-akarnya, maka apapun yang kita perbuat tidak akan berbobot dan situasi sosial budaya akan menjadi sangat rawan”. Sehingga, jika merujuk filosofisnya, kemahasiswaan adalah sebuah petanda yang baik bagi pendidikan. Dimana adanya gambaran sesuatu yang berkembang dan dialektis.

Terdapat konsekuensi yang tidak terelakan bagi kita semua, masyarakat Indonesia yang merupakan pembutuh proses pendidikan. Kita perlu memastikan adanya komunikasi yang tidak mengabaikan psikologi peserta didik sebagai usaha membentuk manusia berpendidikan. Pandangan proses pendidikan sebagai mendaftar sekolah, melahap kurikulum, dan kemudian lulus, tentu tidak bisa dibiarkan mapan begitu saja. Dengan segala ilmu yang diserap, pendidikan menjadi sesuatu yang aktual ketika terdidik berkesempatan menguji pengetahuannya secara etis dengan mencoba mengaplikasikan hasil akedemisnya. Hasil kegiatan pendidikan akhirnya diharapkan mampu menjawab berbagai permasalahan yang muncul. Peserta didik dan kemudian alumni-nya menjadi seorang yang berkarkter, sadar diri atas pengetahuan, dan kemampuan yang dimilikinya. Ini berpeluang mewujudkan kemajuan budaya dalam masyarakat. Pendidikan secara tidak langsung (melalui penyelenggara, terdidik, atau pun alumninya) memberikan sumbangsih yang signifikan dalam transformasi sosial kearah yang lebih baik. Konsep almamater juga (sekolah sebagai ibu kedua kita) dapat berarti kesadaran dan perhatian alumni pada keberlangsungan pendidikan dan kemajuan yang mungkin dicapai

Saat ini, apa yang mungkin kita ekspektasikan pada ITB dan perguruan tinggi lain? Tentu saja praktek yang lebih mendekati nilai-nilai filosofis pendidikan. Ini bisa saja terkesan sebagai usaha reformasi pendidikan. Academic Freedom tentu tidak begitu saja diterjemahkan sebagai penyelenggaraan pendidikan secara privat. Academic Freedom adalah sebuah hal sekaligus kewajiban yang mengiringi sebuah lembaga pendidikan. Dan tidak begitu saja menjadi konsekuensi logis untuk pemberlakuan privatisasi.

Sebaliknya, praktek dalam privatisasi tentu tidak selalu merujuk pada praktek Academic Freedom. Dalam konsep BHP, secara tidak langsung, badan pemangku kepentingan (misal, MWA di ITB) secara tidak langsung (struktural) bertanggung jawab pada maju mundurnya sebuah lembaga pendidikan. Meski begitu, tetap relevan jika menjadikan penyelenggara eksekutif sebagai sorotan pihak yang bertanggung jawab. Kiprah sebuah lembaga pendidikan berkaitan langsung dengan kebijakan yang dibuat dan pengelolaan seluruh fasilitas yang ada didalamnya. Sudah saatnya kita terbiasa memberikan perhatian pada usaha-usaha yang dilakukan untuk menghadirkan kemajuan dan pengembangan praktek pendidikan. Tentunya bersesuaian dengan filosofi pendidikan, usaha memajukan budaya hidup, dan berorientasi pada potensi tertinggi yang mungkin dihadirkan melalui praktek pendidikan.

Mengutip ucapan Prof. Gde Raka: ”…berkarakter bukan sekedar berkompetensi”. Perlu banyak pertimbangan untuk diperhatikan menanggapi visi dalam pendidikan. Semoga pendidikan kita tidak sedang bingung dan yakin pada yang sedang dikerjakan. Semoga kita mampu mengukur pencapaian yang sudah kita lalui dan mampu bijak untuk memutuskan kemungkinan-kemungkinan kelanjutannya. Dalam menghindari pengambilan keputusan yang sekedar ‘mengekor’ kita perlu mengembangkan kemandirian berfikir. Segala kebaruan yang ada tentu bukanlah sesuatu yang siap pakai. Penanganan untuk masalah Indonesialah yang dipakai untuk masalah-masalah Indonesia. Inilah yang seharusnya dicapai dan dipenuhi melalui usaha dan kegiatan pendidikan. Yang dibutuhkan dalam mewujudkan kemajuan budaya hidup bukanlah sesumbar, melainkan sebuah usaha. Dan Masyarakat tidak boleh terbiasa bertahan hidup, mencoba optimis, hanya dengan mendengar sesumbar. Zaman ini mungkin kita terlalu suka membuat sistem kompleks, regulasi, kemudian membiarkannya berjalan sendiri, tapi nyatanya hidup memang butuh perhatian penuh. Dalam wadah Indonesia kita hidup, dengan hidup bermasyarakat kita tumbuh dan tenggelam. Kita semua tentu menaruh harapan pada praktek pendidikan yang diselenggarakan.

Oleh : Usman

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Pemberian Doktor Honoris Causa Buat SBY?

Prolog

Pada dasarnya, Gelar Honoris Causa (H.C) merupakan sebuah gelar yang diberikan oleh perguruan tinggi atau universitas yang telah memenuhi syarat kepasa seseorang, di mana orang tersebut tidak harus mengikuti pendidikan yang sesuai untuk gelar tersebut. Gelar Honoris Causa diberikan dapat diberikan bila seseorang telah dianggap berjasa dan atau berkarya luar biasa bagi ilmu pengetahuan dan umat manusia. Gelar Honoris Causa biasanya diberikan kepada jasa atau karya luarbiasa yang telah memenuhi kriteria sebagai berikut:

· Karya atau jasa yang luar biasa di bidang ilmu pengetehuan dan teknologi, pendidikan, dan pengajaran,

· Karya atau jasa yang sangat bermamfaat bagi kemajuan atau kemakmuran dan kesejahteraan Bangsa dan Negara pada khususnya serta umat manusia pada umumnya,

· Karya atau jasa yang secara luar biasa mengembangkan hubungan baik dan bermanfaat antara Bangsa dan Negara dengan Bangsa dan Negara lain di bidang politik, ekonomi, dan sosial budaya, dan

· Karya atau jasa yang secara luar biasa menyumbangkan tenaga dan pikiran bagi perkembangan Perguruan Tinggi.

Kenapa harus SBY?

Mengingat presiden SBY medapat gelar Doktor Honoris Causa di bidang Teknologi informasi dan komunikasi, menjadi pertanyaan apakah tidak ada orang yang lebih baik dari presiden di bidang TIK? Melihat perkembangan teknologi informasi dan komunikasi di Indonesia, kita memiliki banyak tokoh yang memiliki karya atau jasa yang lebih baik di bidang teknologi informasi dan komunikasi. Sebut saja, Budi Raharjo, Ph.D (pengembang domain internet, dan sekuriti nasional), Armein Z.R Langi , Ph.D (Pengembang multimedia dan internet lokal), Dr. Onno W. Purbo (internet development), dan lain lain. Yang menjadi pertanyaan kedua, karya atau jasa apa yang telah di sumbangkan pak SBY? Sudah seharunya karya atau jasa tersebut bias di rasakan masyarakat.

Kenapa harus sekarang?

Seandainya presiden telah layak mendapat DR HC dengan segala pertimbangan, seharusnya itb sebagai lembaga pendidikan lebih bijaksana dalam mengambil tindakan. Perlu di sadari bahwa, segala kebijakan yang diambil ITB akan mempengaruhi masyarakat. Sebagai akibat dari menyebarnya berita pemberian gelar Doktor Honoris Causa, sangat mungkin terbentuk opini di masyarakat yang masih membutuhkan pencerdasan politik. Sebagai lembaga pendidikan ITB seharusnya memberikan solusi bagi permasalahan bangsa. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Opini yang terbentuk di masyarakat akan menjadi pertimbangan apakah ITB masih mencerdaskan kehidupan bangsa?

Pergeseran posisi ITB

Apa yang terpikir oleh masyarakat tentang ITB sebelum tahun 2004? ITB adalah solusi bagi permasalahan bangsa. ITB sebagai solusi di sebabkan oleh segala tindakan yang dilakukan. Pemberian Gelar Doktor Honoris Causa kepada Presiden SBY yang di lakukan ITB tanpa alasan yang jelas menunjukkan pergeseran posisi ITB. Pergeseran yang dimaksud adalah ITB sebagai solusi bergeser menjadi ITB sebagai X. yang dimaksud X di sini menjadi tidak jelas. Apakah ITB sebagai lembaga pribadi seseorang, Apakah ITB sebagai lembaga pemenangan pemilu. Atau ITB hanya dimanfaatkan orang tertentu untuk kepentingan pribadi. Atau apa itu X??

Oleh : Kevin

Leave a comment

Filed under Uncategorized

ITB Ganti Nama Labtek !!

Di akhir Februari 2009, ITB telah meresmikan pemberian nama baru untuk empat Labtek yang ada di ITB. Keempat Labtek tersebut adalah Labtek V, Labtek VI, Labtek VII, dan Labtek VIII. Pemberian nama pada Labtek-Labtek tersebut didasarkan pada nama alumni ITB yang menyumbang dana sebesar 25 M untuk dana abadi ITB. Empat alumni ITB tersebut adalah Aburizal Bakrie, Arifin Panigoro, Teddy P Rachmat, dan Benny Subianto. Nama Benny Subianto dipakai sebagai nama gedung Labtek V, yaitu Fakultas Industri, Teknik Informatika. Gedung Labtek VI akan diberi nama Teddy P Rachmat yang merupakan gedung teknik fisika, Program Studi Kelautan, Pusat Penelitian Kelautan. Sementara itu, gedung Labtek VII untuk sekolah Farmasi dan Sosioteknologi akan diberi nama Yusuf Panigoro, ayah Arifin Panigoro. Sementara itu nama ayah Aburizal Bakrie, yaitu Achmad Bakrie, akan diabadikan di Gedung Labtek VIII yang merupakan Fakultas MIPA, Teknik Elektro, dan UPT Bahasa. Hampir sebagian besar mahasiswa ITB sudah mengetahui perubahan nama tersebut. Di satu sisi, ITB membutuhkan dana yang cukup besar untuk menjalankan pendidikan tinggi dengan PT BHMN di mana ITB diberikan otonomi untuk mencari sumber keuangan sendiri, atau lebih tepatnya dibiarkan mencari dana sendiri. Berbagai cara diupayakan untuk memenuhi kebutuhan ITB, dari riset para dosen hingga proyek kepakaran dan lain sebagainya, namun belumlah mencukupi total kebutuhan ITB. Direktur Keuangan ITB Mary Handoko, mengatakan bahwa sejak diperkenalkan empat tahun terakhir, endowment fund yang terkumpul masih sedikit, yaitu Rp 14,8 miliar. “Dengan adanya ini (pemberian nama gedung), satu sumbangan saja bisa mengalahkan yang terkumpul empat tahun,” ucapnya.

gedungDi sisi lain, apakah pemberian nama gedung atau bangunan di universitas harus selalu berhubungan dengan pemberian dana?? Terdapat banyak sumbangsih dalam berbagai bentuk yang sepatutnya dihargai, seperti sumbangsih dalam pengembangan ilmu pengetahuan, misalnya Habibie dengan persamaanya yang begitu terkenal, Soekarno yang menggoreskan sejarah kemerdekaan, atau karya-karya lain yang mampu membawa perubahan berarti bagi negeri ini. Selain itu, pihak pemberi dana atau donator pun harus ditinjau terlebih dahulu. Perlu melihat track record dan latar belakang dari si pemberi agar tidak menimbulkan “masalah dan salah persepsi” kedepannya. Tidak hanya itu, perlu dijamin “kebersihan” dana dari praktek “haram yang saat ini sedang marak. Dari keempat alumni ITB tersebut, Teddy P Rachmat, dan Benny Subianto adalah mantan petinggi Astra Group. Sementara Arifin Panigoro adalah pendiri Medco Group. Sedangkan Aburizal Bakrie, saat ini adalah Menteri Koordinator Bidang Kesehjateraan Rakyat, yang juga memiliki perusahaan Bakrie Group.

Aburizal Bakrie, yang saat ini masih menjabat sebagai Menteri di Kabinet SBY, tentu kita masih mendengar issue dan permasalahan Lapindo terkait perusahaan Bakrie. Saat ini, perusahaan Lapindo, anak perusahaan dari Bakrie masih menunggak pemberian ganti rugi untuk korban lumpur Lapindo, sedangkan beliau masih dapat menyumbang dana yang sedemikian besar pada kampus kita, namun bagaimana dengan korban Lapindo? Dari hal tersebut, sebenarnya masih terdapat “ketidakcocokan” pada track record dan latar belakang beliau, sehingga kita masih harus mempertanyakan kembali perihal pemberian nama Labtek di Institut tercinta ini. Akankah kita menerimanya begitu saja tanpa bertanya dan melihat berbagai sudut pandang?? Atau tidakkah kita dapat menolak??!

Sebagai universitas yang cukup besar di negeri ini, ITB memiliki tanggung jawab moral dalam meperbaiki kondisi masyarakat. Sudah sepantasnya kita mempertanyakan dan harus mampu mempertanggungjawabkan segala keputusan baik yang akan kita ambil dan yang sudah kita ambil. Kritik dan pertanyaan adalah dua hal yang selalu harus ada dalam pergerakan kemahasiswaan kita. Ketika kritik dan pertanyaan harus disampaikan, maka sampaikanlah itu sebagai konsekuensi dari idealisme yang kita pegang.

Vivat Akademia !!

oleh: kif

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Perang dan Damai


Napoleon ordered an army to be raised and go to war.

We are so accustomed to that idea and have become so

used to it that the question: why did six hundred thousand

men go to fight when Napoleon uttered certain words,

seems to us senseless. He had the power and so what he

ordered was done.

-Leo Tolstoy

War and Peace-

Thomas Hobbes, seorang filsuf politik, mengatakan bahwa perdamaian bukanlah keadaan alami. Perdamaian adalah suatu kondisi yang diciptakan, melalui ketetapan hukum. Namun, perang yang bagi Hegel adalah sarana Roh semesta dalam mewujudkan kesadarannya dapat dianggap sebagai sesuatu yang irelevan saat ini. Telah begitu banyak perang terjadi, bahkan jauh sebelum kelahiran negara-bangsa dan nasionalisme, dan tampaknya dunia tidak juga belajar, kesadaran tidak juga muncul.

Nama Planet Mars dan kedua satelitnya, Fobos dan Demos yang berasal dari mitologi dewa-dewi Yunani, juga berkaitan dengan perang. Mars berasal dari nama sang dewa perang Mars/Ares karena warna merah planet ini yang melambangkan darah. Sedangkan kedua satelit Mars dinamai demikian karena teror (fobos) dan ketakutan (demos) adalah dua hal yang selalu menyertai peperangan.

Perang dapat pecah mengatasnamakan agama, tuhan, kekayaan alam, kejayaan, dan kekuasaan. Namun Perang Dunia I dan II pada pertengahan abad ke-20 yang disusul perang dingin, perang Teluk, dan bahkan perang melawan teroris oleh Amerika yang tengah berlangsung di Irak saat ini membuktikan bahwa tidak ada faedah yang dapat diambil dari perang.

Dalam esainya yang berjudul ‘O Freunde, nicht Diese Tone’ Hesse menulis, ”Justru perang dunia yang pahit inilah harus membuat kita lebih sadar dan teliti bahwa cinta lebih mulia daripada benci, pengertian lebih utama daripada amarah, damai lebih indah daripada peperangan. Atau, adakah yang lebih baik dari semua ini?” (Hermann Hesse, Seandainya Perang terus Berkecamuk, 2003)

Kant Tentang Perdamaian

Konsep negara, perang dan perdamaian diulas dengan mendalam oleh Immanuel Kant melalui bukunya yang berjudul “Zum ewigen Frieden, Ein philosophischer Entwurf”. Kant menyebutkan enam pasal pendahuluan yang berisi larangan-larangan yang harus ditaati untuk mencapai perdamaian antarnegara, yaitu (1) perjanjian perdamaian yang hanya bersyarat, (2) penghancuran negara-negara berdaulat, (3) perlombaan persenjataan, (4) pembuatan utang oleh negara untuk membiayai perang, (5) campur tangan paksa dalam urusan negara lain, dan (6) berperang dengan memakai pembunuhan gelap, pembunuhan dengan racun, melanggar syarat-syarat kapitulasi dan merangsang pengkhianatan.

Baginya, yang memberi jaminan bagi perdamaian abadi itu adalah alam sendiri. Penyelenggaraan alam tersebut dapat dilihat pada fakta: 1. alam memungkinkan manusia untuk bisa hidup di semua wilayah di muka bumi ini; 2. karena perang mendesak manusia bahkan ke wilayah-wilayah yang paling tak ramah untuk tinggal dan hidup di sana; 3. karena perang mengharuskan mereka menciptakan hubungan yang sedikit banyak didasari hukum. (Immanuel Kant, Menuju Perdamaian Abadi, 2005. hal.77 )

Lebih lanjut, Kant kemudian merumuskan 3 pasal definitif untuk menjamin keberlangsungan perdamaian. Yang pertama yaitu, konstitusi sipil setiap negara seharusnya berupa republik. Hal ini karena republik dibangun berdasarkan prinsip kebebasan setiap anggota masyarakat, ketergantungan semua terhadap suatu perundangan hukum, dan hukum persamaan hak. Sebagai konsekuensinya, warga negaralah yang memutuskan perlu tidaknya perang bagi mereka sehingga dapat menghindari kesulitan-kesulitan yang diakibatkan perang. Kesulitan tersebut yakni keharusan untuk bertempur, keharusan untuk membiayai perang, untuk memperbaiki kerusakan yang ditinggalkan oleh perang, mengatasi tindak kejahatan, dan kesulitan akibat utang nasional yang harus dibayar akibat perang.

Pasal kedua adalah hukum bangsa-bangsa harus didirikan di atas suatu federasi negara-negara merdeka. Namun federasi ini bukan berarti satu negara dunia, melainkan persekutuan negara negara yang diikat oleh hukum bersama. Kant berargumen bahwa akan sangat menguntungkan apabila sebuah bangsa besar mewujudkan negara republikan yang bersedia untuk menempatkan diri di bawah perjanjian perdamaian, karena bangsa-bangsa yang lebih lemah akan lebih mudah untuk berperan serta.

Yang ketiga adalah hukum di mana warga dunia harus terbatas pada persyaratan keramahtamahan universal. Hukum ini berbicara tentang hak. Di mana keramahtamahan berarti hak pendatang asing untuk tidak diperlakukan sebagai musuh ketika tiba di wilayah lain, namun tidak untuk menetap secara permanen karena dapat mengancam perdamaian. Hukum ini didasarkan pada prinsip bahwa pada awalnya, tak seorang pun mempunyai hak yang lebih dari orang lain atas satu bagian bumi. Hak atas muka bumi adalah hak bersama.

Penutup

Konsep Kant di atas menemukan konteks tidak hanya pada jamannya saja karena hingga saat ini alur sejarah dunia masih dipenuhi oleh kekerasan dan kebencian yang diakibatkan dan mengakibatkan perang. Konsep tersebut dapat dilaksanakan secara praktis dalam kehidupan bernegara dan juga antarnegara karena merupakan teori yang berdasarkan realitas dunia. Kant berbicara bagaimana membangun kehidupan demokratik yang tidak dipimpin oleh seorang despot melalui keputusan-keputusan politik yang bijak, organisasi negara yang baik, dan struktur-struktur legal yang mendukung terciptanya perdamaian. Struktur-struktur tersebut sangat penting menurut Kant karena struktur yang adil lebih menentukan kehidupan damai bersama warga daripada kehendak moral mereka yang seringkali dikalahkan oleh sistem.

Walaupun demikian, dalam dunia yang sangat majemuk saat ini, upaya terpenting untuk menciptakan perdamaian dunia adalah dengan memutuskan lingkaran kebencian, kekerasan dan prasangka yang membelenggu masyarakat dari bangsa-bangsa. Lingkaran yang lahir karena adanya the others atau yang lain. Seperti pemikiran Kant di atas, perlakukanlah orang asing seperti tamu, bukan seorang musuh. []

Oleh : Hanna

1 Comment

Filed under relita dan isu

Meninjau harga di Indonesia

Tentu kita masih ingat beberapa waktu yang lalu dengan keputusan pemerintah menaikkan harga BBM kurang lebih 30%. Selama pemerintahan SBY, terhitung dari tahun 2004, hingga saat ini, september 2008, pemerintah telah menaikkan harga BBM dua kali. Saat ini, harga minyak tanah telah mencapai Rp. 2500 dari sebelumnya Rp. 2000, harga Premium Rp. 6000 dari sebelumnya Rp. 4500, dan harga Solar Rp. 5500 dari sebelumnya Rp. 4300. Kenaikan harga BBM ini, tentu berdampak sangat besar bagi perkenomian Indonesia. Kita dapat merasakan kenaikan harga komoditas lain, tarif angkutan, dan berbagai kenaikan lainnya. Sangat besar efek domino dari kenaikan BBM ini. Kenaikan harga minyak dunia yang begitu pesat melonjak pada beberapa waktu yang lalu, menjadi alasan kuat pemerintah untuk menaikkan harga BBM, karena pemerintah berasumsi bahwa dengan harga minyak dunia pada saat itu (lebih dari $135/bbl) pemerintah menderita kerugian akibat subsidi yang ditanggung, sementara produksi yang terus menurun (kurang dari 1 juta bbl) dan tingkat konsumsi BBM di Indonesia yang semakin naik (lebih dari 1,2 juta bbl /hari). Berbagai media baik koran, majalah, televisi, dll, seakan-akan memperkuat alasan pemerintah tersebut dalam kebijakan kenaikan harga bbm tersebut, namun, apa benar APBN defisit??
Beberapa waktu setelah kenaikan harga BBM pada Mei lalu, pemerintah kembali menetapkan kenaikan harga, kali ini, harga gas elpiji yang menjadi sasarannya. Pada 1 Juli 2008, pemerintah menaikkan harga gas elpiji kemasan 12 kilogram dari Rp. 4250 per kilogram menjadi Rp. 5250 per kilogram, dari Rp. 51000 per tabung 12 kilogram menjadi Rp. 63000 per tabung 12 kilogram, atau naik sekitar 25,3%. Pada Senin kemarin (25/8), PT Pertamina kembali menaikkan harga elpiji kemasan 12 kilogram dan 50 kilogram. Elpiji 12 kilogram naik dari Rp 63.000 per tabung menjadi Rp 69.000 per tabung, sedangkan elpiji 50 kilogram dari Rp 343.900 per tabung menjadi Rp 362.750 per tabung. Kenaikan harga bbm saja, telah memicu banyak kenaikan harga komoditas lain, apalagi ditambah kenaikan gas elpiji. Program pemerintah pun, dalam rangka mengkonversi minyak tanah ke gas, menjadi masalah baru yang turut membuat rakyat semakin kesulitan, karena justru ketika rakyat sedang beralih dari penggunaan minyak tanah ke gas, saat itu pula pemerintah menaikkan harga gas. Kelangkaan gas elpiji di beberapa wilayah di Indonesia pun, semakin menambah pelik krisis yang dialami masyarakat. Harga gas elpiji yang telah naik, akan bertambah besar kenaikannya di daerah-daerah yang langka gas elpiji, karena begitu banyaknya permintaan akan gas elpiji, namun barang yang tersedia sangat terbatas. Berikut disajikan beberapa permasalahan di beberapa daerah di indonesia dalam tabel :

idak hanya bbm dan gas elpiji, di Jakarta, tarif 13 ruas tol telah resmi dinaikkan dan mulai berlaku pada hari Sabtu, 1 September 2008 pukul 00.00 dini hari. Besar kenaikan tarif tol tersebut adalah 22%. Pemerintah berasumsi bahwa pengguna tol kebanyakan adalah warga kelas atas dengan banyaknya mobil pribadi, sehingga tidak akan begitu mempengaruhi perkenomian masyarakat luas. Namun, pengguna tol di lapangan, ternyata banyak pula angkutan umum, angkutan distribusi dari berbagai perusahaan dan pabrik, serta masyarakat menengah ke bawah lainnya. Tentu hal ini akan berlawanan dengan asumsi pemerintah, sehingga perekonomian masyarakat akan terganggu dengan kenaikan tarif tol tersebut yang tentu saja akan berdampak pada harga lainnya. Kenaikan tarif tol akan berdampak pada kenaikan biaya produksi dan distribusi berbagai perusahaan, kenaikan tarif angkutan yang sebelumnya telah naik akibat kenaikan harga bbm, dan banyak lagi efek lainnya. Tentu saja masyarakat akan semakin sulit, terutama menjelang bulan puasa dimana harga kebutuhan pokok biasanya naik, dan persiapan “mudik” lebaran yang akan menambah biaya transportasi. Apalagi kenaikan tarif tol tidak diimbangi dengan peningkatan kuntitas dan kualitas pelayanan, dimana masih banyak kekurangan dalam pelayanan jalan tol. Salah seorang anggota DPR bahkan menilai kenaikan tarif  jalan tol merupakan kebijakan yang tidak manusiawi.
Belum cukup kenaikan tersebut, pemerintah DKI Jakarta bahkan tengah menggodok RUU kenaikan pajak empat jenis kendaraan bermotor dan mempersiapkan kenaikan biaya retribusi dan parkir yang diperkirakan akan terjadi pada 2009.Diperkirakan, kenaikan pajak kendaraan bermotor akan naik dari 5% menjadi 10%, serta biaya parkir dari Rp.2000 menjadi Rp.3000. Padahal, beberapa waktu lalu sebelum keputusan kenaikan harga bbm dikeluarkan, beberapa anggota DPR dan beberapa pihak menawarkan opsi kenaikan pajak kendaraan bermotor guna mencegah rencana pemerintah menaikkan harga bbm. Namun, setelah kenaikan bbm, pemerintah masih berencana untuk menaikkan tarif pajak kendaraan bermotor. Apa sebenarnya yang direncanakan pemerintah?? Melihat kondisi ini, dimana berbagai harga tengah melambung tinggi, dimana semakin banyak rakyat Indonesia menderita, apa yang dapat kita lakukan?? Sebagai generasi penerus bangsa, tumpuan harapan bangsa, beban berat negeri ini ada di pundak kita kawan!!!
Mari berpikir, berdiskusi dan bergerak bersama!!

oleh : Samuel

1 Comment

Filed under relita dan isu

Ramadhan ya.. Ramadhan


Bulan Ramadhan sudah menjelang akhirnya, sudahkah kita benar-benar memaknainya? Ibadah puasa, merupakan perintah salah satu rukun Islam yaitu shaum, yang berarti menahan. Dalam menjalankan ibadahnya kita menahan makan, minum, dan junub, sejak terbit matahari (imsak) sampai Maghrib atau terbenamnya fajar. Bagi umat Islam menjalankan puasa adalah suatu keharusan yang mengakibatkan dosa bagi yang tidak melakukannya. Lebih dari itu, kesempurnaan puasa didapat dengan menjaga dan menahan diri semua perbuatan tercela dan menambah amal kita. Ulama sering kali menceramahkan seorang menjalankan apapun namun tidak mendapatkan apapun selain lapar dan haus. Puasa meminta kita untuk senantiasa menjaga pikiran, perkataan, dan perbuatan kita. Ibadah ini seperti menyekolahkan atau menempa pelakunya selama sebulan penuh. Kebiasaan baik dan menanhan diri selama sebulan penuh tentu merupakan pelajaran yang berharga bagi yang melakukannya.

“Puasa memberikan kita pengalaman seperti yang biasa dialami fakir miskin”. Sejak lama, perkara agama diperdebatkan antara sesuatu yang bersifat amaliah dan syariah. Yang amaliah tentu berpendapat tentang perlunya perluasan praktek ibadah hingga melampaui apa yang terbatas dalam tekstual. Dan yang syariah meminta perlunya memahami aturan-aturan peribadatan dan amalan sesuai dengan yang ditetapkan. Kedua hal ini sebenarnya tentu sama pentingnya. Agama sebagai amaliah tentu membuat yang memeluknya tetap mampu menghadapi segala fenomena yang ada secara bijak. Segala yang tertulis tersadari sebagai kesatuan antara ketetapan, nilai-nilai, dan historis. Disisi lain, syariah pun tentu merupakan fokus yang penting, mengingat perlunya kesempurnaan ritual peribadatan. Sebagai wujud rasa syukur dan terimakasih yang sebenarnya tak mungkin terbalaskan. Dan ibadah puasa hadir sebagai wujud taat kita pada Allah SWT, sekaligus pembelajaran bagi yang menjalankannya. Tentu ada sesuatu yang berharga dibalik turunnya ibadah puasa. Sesuatu yang kemudian menjadi pengetahuan kita, berkembang menjadi sikap kita, menjadi kebiasaan, dan kemudian menjadi karakter. Terjadi perubahan pada diri kita melalui proses antara sebelum dan setelah kita menyelesaikan ibadah puasa.

Hasan Al-Basri memaparkan tiga gambaran hamba Tuhan. Yang pertama adalah tipe hamba sahaya, yaitu orang-orang yang melaksanakan ibadah karena takut api neraka. Yang kedua adalah tipe pedagang, yaitu orang-orang yang melaksanakan ibadah karena mengharapkan surga. Dan yan terakhir adalah tipe pecinta, yaitu orang-orang yang beribadah karena kecintaannya pada Tuhan dan takut jika Tuhan berpaling darinya. Ketiga tipe ini diperbolehkan, tapi kita tentu harus mengakui kualitas tipe ketiga lebih baik diantara ke dua tipe lainnya. Tipe pecinta lebih mengkhawatirkan keridhoan dan kemurkaan Tuhan dibanding sekedar surga atau neraka. Sebagai humor, jika dibayangkan, golongan ini tentu tidak menyesalkan seluruh peribadatan yang telah dilakukannya di dunia, jika ia tidak menemui surga dan neraka di akherat. Yang jelas, tipe ini pasti memiliki spiritualitas/ ketuhanan yang seharusnya dimiliki oleh setiap pemeluk agama. Dengannya, tipe ini memiliki kualitas iman yang baik, secara keseluruhan. Rasa spiritualitas bisa menjadi semangat untuk berjalan di jalan yang lurus sesuai petunjuk melalui ajaran agama Islam, yang rahmatan lil alamin. Dan sampai hari ini, menuju berakhirnya bulan Ramadhan, semoga kita diberikan kekuatan menjalaninya sekaligus dikaruniakan kemampuan memaknainya. Untuk kemudian menjadi pribadi yang lebih ber-taqwa, lebih baik, dan mampu membawa semangat spiritual kedalam hingar-bingar keseharian kita.

Leave a comment

Filed under agama