Ramadhan ya.. Ramadhan


Bulan Ramadhan sudah menjelang akhirnya, sudahkah kita benar-benar memaknainya? Ibadah puasa, merupakan perintah salah satu rukun Islam yaitu shaum, yang berarti menahan. Dalam menjalankan ibadahnya kita menahan makan, minum, dan junub, sejak terbit matahari (imsak) sampai Maghrib atau terbenamnya fajar. Bagi umat Islam menjalankan puasa adalah suatu keharusan yang mengakibatkan dosa bagi yang tidak melakukannya. Lebih dari itu, kesempurnaan puasa didapat dengan menjaga dan menahan diri semua perbuatan tercela dan menambah amal kita. Ulama sering kali menceramahkan seorang menjalankan apapun namun tidak mendapatkan apapun selain lapar dan haus. Puasa meminta kita untuk senantiasa menjaga pikiran, perkataan, dan perbuatan kita. Ibadah ini seperti menyekolahkan atau menempa pelakunya selama sebulan penuh. Kebiasaan baik dan menanhan diri selama sebulan penuh tentu merupakan pelajaran yang berharga bagi yang melakukannya.

“Puasa memberikan kita pengalaman seperti yang biasa dialami fakir miskin”. Sejak lama, perkara agama diperdebatkan antara sesuatu yang bersifat amaliah dan syariah. Yang amaliah tentu berpendapat tentang perlunya perluasan praktek ibadah hingga melampaui apa yang terbatas dalam tekstual. Dan yang syariah meminta perlunya memahami aturan-aturan peribadatan dan amalan sesuai dengan yang ditetapkan. Kedua hal ini sebenarnya tentu sama pentingnya. Agama sebagai amaliah tentu membuat yang memeluknya tetap mampu menghadapi segala fenomena yang ada secara bijak. Segala yang tertulis tersadari sebagai kesatuan antara ketetapan, nilai-nilai, dan historis. Disisi lain, syariah pun tentu merupakan fokus yang penting, mengingat perlunya kesempurnaan ritual peribadatan. Sebagai wujud rasa syukur dan terimakasih yang sebenarnya tak mungkin terbalaskan. Dan ibadah puasa hadir sebagai wujud taat kita pada Allah SWT, sekaligus pembelajaran bagi yang menjalankannya. Tentu ada sesuatu yang berharga dibalik turunnya ibadah puasa. Sesuatu yang kemudian menjadi pengetahuan kita, berkembang menjadi sikap kita, menjadi kebiasaan, dan kemudian menjadi karakter. Terjadi perubahan pada diri kita melalui proses antara sebelum dan setelah kita menyelesaikan ibadah puasa.

Hasan Al-Basri memaparkan tiga gambaran hamba Tuhan. Yang pertama adalah tipe hamba sahaya, yaitu orang-orang yang melaksanakan ibadah karena takut api neraka. Yang kedua adalah tipe pedagang, yaitu orang-orang yang melaksanakan ibadah karena mengharapkan surga. Dan yan terakhir adalah tipe pecinta, yaitu orang-orang yang beribadah karena kecintaannya pada Tuhan dan takut jika Tuhan berpaling darinya. Ketiga tipe ini diperbolehkan, tapi kita tentu harus mengakui kualitas tipe ketiga lebih baik diantara ke dua tipe lainnya. Tipe pecinta lebih mengkhawatirkan keridhoan dan kemurkaan Tuhan dibanding sekedar surga atau neraka. Sebagai humor, jika dibayangkan, golongan ini tentu tidak menyesalkan seluruh peribadatan yang telah dilakukannya di dunia, jika ia tidak menemui surga dan neraka di akherat. Yang jelas, tipe ini pasti memiliki spiritualitas/ ketuhanan yang seharusnya dimiliki oleh setiap pemeluk agama. Dengannya, tipe ini memiliki kualitas iman yang baik, secara keseluruhan. Rasa spiritualitas bisa menjadi semangat untuk berjalan di jalan yang lurus sesuai petunjuk melalui ajaran agama Islam, yang rahmatan lil alamin. Dan sampai hari ini, menuju berakhirnya bulan Ramadhan, semoga kita diberikan kekuatan menjalaninya sekaligus dikaruniakan kemampuan memaknainya. Untuk kemudian menjadi pribadi yang lebih ber-taqwa, lebih baik, dan mampu membawa semangat spiritual kedalam hingar-bingar keseharian kita.

Advertisement

Leave a Comment

Filed under agama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s